
Pemerintah baru-baru ini telah menggaungkan new normal untuk diterapkan di Indonesia. Sesuatu yang harus kita pertanyakan dimana kasus covid-19 di Indonesia per tanggal 10 Juni 2020 mencapai 34.316 kasus atau bertambah sebanyak 1241 kasus. Pada saat seperti ini kita bisa melihat bahwa pemerintah lebih peduli aliran modal dan menjaga roda kapitalisme ketimbang kesejahteraan dan keselamatan rakyat. New normal adalah dimana kemanusiaan dilihat dari sudut pandang laporan neraca. New normal adalah dimana sepatu lars berada di sudut-sudut kota yang siap menempel di kepalamu.
Terlepas dari akibat pandemic covid-19 ini, kita, orang tua kita dan mereka yang di asingkan telah menjalani kehidupan yang sangat kejam dari kapitalisme, mulai dari kemiskinan, kelaparan, hingga kematian. Dalam pandemic seperti ini, kita semakin tertindas dimana dalam berbuat sesuatu maka nyawa adalah taruhannya, berbanding terbalik bagi mereka pemerintah dan pemilik modal yang memiliki hak istimewa.
Begitu juga dengan kapitalisme Pendidikan. Ditengah krisis akibat pandemic seperti ini kita dipaksa tetap harus membayar uang spp dan juga uang kuliah. Disini kita bisa melihat bagaimana kapitalisme di Pendidikan, dimana pada akhirnya yang bisa mendapatkan Pendidikan hanyalah mereka para anak-anak pemodal, para kaum borjuis dan Sebagian dari mereka yang memiliki hak istimewa.
Mewajibkan membayar spp dan uang kuliah di semester depan hanya akan memperjelas bahwa Pendidikan hari ini hanyalah bisnis jutaan dollar dimana siswa dan mahasiswa adalah komoditas. Dalam sebuah system dimana sekolah dan universitas dijalankan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya, dan dimana masa depan orang di nilai berdasarkan hanya nilai akademik saja , uang telah mengambil peran utama. Kita benar-benar seperti anjing yang di perdagangkan dan mengemis pada belas kasihan dari sistem yang kejam dan jahat yang disebut kapitalisme.
Pada akhirnya, kita hanya akan menjadi budak, menjadi orang yang percaya pada takdir bahwa kita terlahir bodoh dan tunduk pada kebenaran standard tunggal yang mereka berikan. Ini adalah pengingkaran dari apa yang selama ini mereka katakan dan yang tertulis di undang-undang yang mereka buat.
Kita telah melihat respon dari kemendikbud dan juga berbagai universitas ataupun sekolah dimana respon mereka tak pernah memikirkan tentang kita. Semua tanggapan dari mereka terkait masalah spp dan juga uang kuliah adalah hal konyol, mereka tak pernah berpikir tentang masalah krisis akibat pandemic ini. Kita tak akan pernah percaya terhadap mekanisme yang mereka berikan terkait masalah spp dan uang kuiah, karena sejatinya mekanisme itu tak pernah berhasil.
Ini bukanlah hal yang baru bagi kita. Berapa banyak anak-anak atau pemuda yang tak dapat merasakan Pendidikan ? dan juga kita bisa melihat seberapa besar anggaran Pendidikan di banding anggaran kementerian pertahanan, yang hanya akan di gunakan untuk menindas dan menertibkan kita dengan kekuatan militernya.
Tak ada acara lagi selain mengorganisir diri kita dan menyatukan kekuatan kolektif. Kita harus terbebas dari syarat ini itu yang menghambat Gerakan kita. Kita tak dapat melawan dan memperjuangkan ini semua apabila kita tetap terperangkap ke dalam logika mereka. Mari kita melindungi diri dari krisis ini dan tiap kesulitan yang akan datang.
Kita menyadari bahwa tidak adilnya kehidupan hari ini. Maka dari itu, mari memimpikan cara-cara baru untuk melindungi kita . kita harus terhubung dari satu ke yang lain. Dari mahasiwa ke siswa hingga ke rakyat.
Jika Pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, maka di tengah krisis akibat pandemic sekarang ini, Pendidikan haruslah di gratiskan dan seterusnya.
Jika mereka mengabaikan ini semua, maka mogok bayar spp dan uang kuliah adalah tawaran yang pas. Dalam kehidupan mereka mengontrol kita, di dalam Pendidikan mereka memonopolinya.
Organisir diri segera, percayalah kepada diri sendiri.
Mari memulai dan membangun kekuatan Bersama, Hubungi kami di merahmaroon@protonmail.ch